Jangan marah dulu.
Tarik napas.
Pelan-pelan.
Kalau perlu minum air putih. Jangan air aki, nanti masalahnya bukan lagi soal marah, tapi soal kenapa kamu bisa sampai kepikiran minum air aki.
Saya tahu kamu sedang bingung.
Mukamu sudah mulai mengernyit. Alis naik sebelah. Mata melotot seperti baru menemukan harga cabai menjelang Lebaran. Mulut sedikit terbuka, seolah-olah otak sedang loading tetapi jaringan sedang dipakai tetangga.
“Ini apa?”
“Kenapa bisa begini?”
“Siapa yang melakukan?”
“Kenapa saya tidak diberi tahu?”
“Kenapa semuanya terasa aneh?”
Nah.
Itulah masalahnya.
Kamu terlalu banyak bertanya, tetapi terlalu sedikit bertanya kepada orang yang tepat.
Akhirnya kamu hanya berdiri di sana dengan wajah penuh tanda tanya.
Tanda tanyanya banyak sekali.
Kalau dikumpulkan mungkin sudah cukup untuk membuka percetakan.
Dan sebelum kamu mulai marah, saya ingin mengatakan sesuatu yang mungkin agak menyakitkan.
Jangan marah. Mukamu tampak seperti keledai.
Bukan karena saya membenci keledai.
Justru keledai itu makhluk yang sabar.
Dia disuruh jalan, jalan.
Disuruh membawa barang, dibawa.
Disuruh berhenti, berhenti.
Sementara kamu?
Baru melihat sesuatu yang tidak sesuai keinginan, langsung seperti petasan dilempar ke wajan panas.
Meledak.
Padahal belum tentu ada yang salah.
Mungkin kamu saja yang belum memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Tetapi begitulah manusia.
Kalau tidak mengerti sesuatu, sering kali yang pertama dilakukan bukan mencari penjelasan.
Melainkan marah.
Kalau masih belum mengerti, marah lagi.
Kalau penjelasan sudah diberikan tetapi tidak sesuai harapan, marah lebih keras.
Dan kalau ternyata setelah diperiksa justru dirinya sendiri yang salah?
Diam.
Tiba-tiba menjadi pendiam.
Mendadak sibuk.
Mendadak melihat langit.
Mendadak memperhatikan sandal.
Mendadak berkata,
“Ya sudah.”
Padahal lima menit sebelumnya dia sudah seperti hendak menggulingkan pemerintahan sebuah kerajaan.
Lucu memang.
Manusia bisa begitu cepat mengeluarkan emosi, tetapi begitu lambat mengeluarkan logika.
Kamu bertanya,
“Siapa yang melakukan ini?”
Pertanyaan bagus.
Tetapi jangan langsung menunjuk orang.
Karena jari telunjukmu memang bisa menunjuk seseorang, tetapi tiga jari lainnya sedang menunjuk ke arahmu sendiri.
Coba perhatikan.
Lucu, bukan?
Tiga jari mengarah kepadamu.
Tetapi kamu masih sibuk mencari kambing hitam.
Kalau kambingnya tidak ketemu, nanti keledai yang disalahkan.
Kasihan keledai.
Dia tidak ikut rapat.
Dia tidak ikut membuat keputusan.
Dia bahkan tidak tahu masalahnya apa.
Tapi tetap saja namanya ikut terseret.
Begitulah dunia.
Yang tidak tahu apa-apa kadang ikut kena.
Yang paling berisik justru kadang tidak tahu apa-apa.
Dan yang benar-benar tahu biasanya duduk di pojokan sambil diam, melihat manusia lain berdebat seperti dua ayam berebut sandal.
Kamu masih bingung?
Bagus.
Kebingungan itu tidak masalah.
Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang bingung tetapi merasa paling benar.
Itu kombinasi yang luar biasa.
Seperti orang tersesat membawa kompas, tetapi kompasnya dipasang terbalik.
Dia tetap berjalan dengan percaya diri.
Salah arah, tetapi percaya diri.
Itulah manusia modern.
Tidak tahu.
Tetapi yakin.
Tidak paham.
Tetapi menjelaskan.
Tidak melihat.
Tetapi menuduh.
Tidak membaca.
Tetapi berkomentar.
Tidak mencari tahu.
Tetapi sudah membuat kesimpulan.
Lalu ketika ada yang bertanya,
“Dasarnya apa?”
Jawabannya sederhana.
“Perasaan saya.”
Ah.
Perasaan.
Senjata paling murah sekaligus paling mahal.
Murah karena siapa saja punya.
Mahal karena kalau digunakan sembarangan, orang lain yang harus membayar akibatnya.
Jadi kalau sekarang kamu merasa marah, silakan.
Marah itu manusiawi.
Tetapi sebelum kemarahanmu keluar dari mulut seperti kereta tanpa rem, coba berhenti sebentar.
Lihat apa yang sebenarnya terjadi.
Siapa yang melakukan?
Apa yang dilakukan?
Kenapa dilakukan?
Apakah benar seperti yang kamu pikirkan?
Atau jangan-jangan kamu hanya melihat separuh cerita lalu membuat kesimpulan sepanjang novel?
Karena hidup ini bukan potongan video berdurasi lima belas detik.
Tidak semua hal bisa dipahami hanya dari satu adegan.
Kadang kamu perlu melihat awalnya.
Kadang perlu mengetahui akhirnya.
Kadang perlu bertanya.
Kadang perlu diam.
Dan yang paling penting…
Kadang kamu perlu mengakui bahwa kamu tidak tahu.
Kalimat itu sederhana.
Tetapi anehnya sangat sulit diucapkan.
“Saya tidak tahu.”
Kenapa sulit?
Karena ego.
Ego itu seperti balon.
Semakin ditiup, semakin besar.
Masalahnya, semakin besar juga kemungkinan meletus di depan orang banyak.
Lalu semua orang melihat.
Dan ketika sudah meletus, kamu akan pura-pura tidak terjadi apa-apa.
“Bukan saya.”
Padahal serpihan balonnya masih menempel di kepala.
Jadi jangan terburu-buru marah.
Jangan buru-buru menuduh.
Jangan buru-buru merasa menjadi korban.
Dan jangan buru-buru merasa paling pintar hanya karena kamu paling keras suaranya.
Karena suara keras tidak otomatis membuat seseorang benar.
Kalau begitu, mesin pemotong rumput adalah profesor.
Klakson adalah hakim.
Dan alarm kebakaran adalah filsuf.
Tidak masuk akal.
Tetapi itulah yang sering terjadi.
Yang paling keras dianggap paling tahu.
Yang paling banyak bicara dianggap paling pintar.
Yang paling berani marah dianggap paling berkuasa.
Padahal kadang-kadang orang yang benar justru tidak perlu berteriak.
Dia cukup menjelaskan.
Kalau tidak dipercaya, dia tetap tenang.
Karena kebenaran tidak selalu membutuhkan volume tinggi.
Yang membutuhkan volume tinggi biasanya speaker.
Bukan argumen.
Jadi, sekali lagi…
Jangan marah.
Tenangkan wajahmu.
Turunkan alismu.
Lepaskan rahangmu.
Jangan pasang muka seperti sedang menagih utang kepada bulan.
Karena semakin kamu marah, semakin sulit kamu berpikir.
Dan semakin sulit kamu berpikir, semakin besar kemungkinan kamu melakukan sesuatu yang nanti membuatmu berkata,
“Kenapa tadi saya begitu?”
Nah.
Itulah bagian yang paling lucu.
Manusia sering menyesal bukan karena tidak tahu.
Tetapi karena terlalu cepat bertindak ketika belum tahu.
Jadi kalau sekarang kamu sedang bingung, tidak apa-apa.
Kalau sedang kesal, tarik napas.
Kalau sedang marah, diam sebentar.
Kalau sedang ingin menuduh, periksa dulu.
Dan kalau akhirnya kamu sadar ternyata memang ada yang salah…
Silakan marah.
Tetapi marahlah dengan alasan.
Bukan seperti keledai yang melihat pagar lalu marah karena pagar tidak mau minggir.
Karena dunia tidak akan selalu bergerak sesuai keinginanmu.
Orang lain tidak selalu berpikir seperti kamu.
Keadaan tidak selalu berjalan seperti rencanamu.
Dan kenyataan tidak punya kewajiban untuk mengikuti ekspektasimu.
Jadi sebelum wajahmu berubah menjadi patung kemarahan…
Sebelum urat lehermu mulai bekerja lembur…
Sebelum mulutmu mengeluarkan kalimat yang besok ingin kamu tarik kembali…
Berhenti.
Lihat lagi.
Pikirkan lagi.
Tanyakan lagi.
Dan kalau masih belum paham…
Ya sudah.
Jangan marah.
Karena jujur saja…
Mukamu sudah cukup membuat suasana tegang.
Tidak perlu ditambah amarah.
Nanti keledainya juga tersinggung.

No comment